SMS / WA DI 081383984246./081905026030. untuk mendapatkan rendang terbuat dari daging segar tanpa lemak. tanpa MSG dan bahan pengawet

Rabu, 29 April 2015

Sejarah Rendang 2

Sejarah Rendang (2)



Rendang tidak hanya rendang daging saja, tapi berbagai bahan makanan dapat dijadikan rendang, diantaranya adalah rendang ikan, rendang berbagai jeroan seperti paru, limpa, hati, rendang ayam, rendang bebek, rendang jengkol, bahkan kini muncul varian baru, rendang jamur yang dibuat dari jamur tiram.

Teknik memasak daging menjadi rendang mungkin dapat juga muncul karena kebutuhan masyarakat Minangkabau yang terkenal sebagai pedagang tangguh yang terkadang mengharuskan mereka untuk bepergian dalam waktu yang lama, tentunya rendang merupakan solusi praktis untuk mengatasi masalah survival karena daya tahannya yang tinggi, khususnya rendang kering. Sejarawan Universitas Andalas Prof. Gusti Asnan menduga, rendang telah menjadi masakan yang tersebar luas sejak orang Minang mulai merantau dan berlayar ke Malaka untuk berdagang pada awal abad ke-16. “Karena perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan tepat saat itu sebagai bekal.”[7] Hal ini karena rendang kering sangat awet, tahan disimpan hingga berbulan lamanya, sehingga tepat dijadikan bekal kala merantau atau dalam perjalanan niaga.

Rendang yang semula berasal dari Minangkabau, Indonesia kemudian menyebar keluar Indonesia. Azhar Alias, Sous Chef Hotel Equatorial mengatakan bahwa rendang dapat dipastikan berasal dari Pulau Sumatera, Indonesia "Adalah bagian dari kuliner Padang, yang dibawa oleh etnis Minangkabau ke Negeri Sembilan," kata dia di The Star. Seperti yang diketahui, orang Minang pindah ke pantai Barat sejak awal abad ke-15 yang kini menjadi bagian Malaysia . Begitu juga menurut Ashar Daud, Executive Sous Chef pada The 39 Restaurant di PNB Darby Park, KL, . "Banyak masakan Malaysia memiliki akar di Indonesia atau dipengaruhi tradisi kuliner republik itu." 

Menurut Muhammad Nur, sejarawan Melayu dari Universitas Andalas, Padang, .
Pada awal abad ke 16 terjadi migrasi orang Minang yang diduga sebagai penyebab rendang mulai menembus keluar Minangkabau. Saat itu, terjadi migrasi besar-besaran orang Minang menggunakan jalur sungai Rokan, Riau menuju Malaka untuk mencari daerah baru, dan pengembangan ekonomi. "Malaka saat itu kan gerbang utama menuju Semenanjung Malaya (Malaysia saat ini). Rata-rata orang Minang ini mendiami Negeri Sembilan dan Johor Baru untuk mengembangkan budaya, termasuk kuliner," kata M Nur (Vivanews)
Kini penyebaran rendang pun semakin meluas karena CNNgo memasukkan rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia. Bahkan kini rendang telah dijual melalui internet dengan rendang kemasan sehingga kini rendang dengan mudah menyebar ke berbagai pelosok dunia seperti Timur Tengah, dan Eropa khususnya Belanda.




Sejarah Rendang 1

Sejarah Rendang (1)


Tidak banyak makanan yang dapat ditelusuri sejarahnya. Sejak diumumkan sebagai salah satu makanan terenak didunia oleh CNNgo, kini sejarah rendang pun mulai dipelajari kembali. Bagi rakyat Indonesia ini adalah sebuah berita bagus ditengah-tengah keterpurukan negeri ini. Rendang pun di "klaim" oleh Malaysia dan membuat rakyat Indonesia terutama penduduk Sumatera Barat meradang, apalagi belakangan Malaysia sering sekali meng-klaim budaya Indonesia. Akan tetapi tidaklah aneh jika pengolahan rendang menyebar hingga ke Malaysia dan kemudian melahirkan varian baru dari rendang.

Jaman dulu belum ada yang namanya lemari es, freezer atau teknologi pengawetan makan lainnya sehingga berbagai teknik pengawetan sederhana berhasil dikembangkan oleh nenek moyang kita. Beberapa teknik pengawetan misalnya dengan pengasinan seperti ikan asin, pengasapan, pemanisan, dan termasuk juga mengolahnya menjadi rendang kering. Air yang hampir tidak ada pada rendang kering membuat rendang mampu bertahan selama 1 hingga 3 bulan. Tentunya teknik sangat bermanfaat bagi nenek moyang kita untuk bertahan hidup.

Rendang adalah makanan khas yang berasal dari daerah Minangkabau, Indonesia. Karena adat kebiasaan orang Minangkabau yang suka merantau, rendang dan berbagai masakan daerah lainnya ikut menyebar keseluruh Indonesia, bahkan hingga ke Belanda. Penyebaran tersebut dapat dilihat dengan banyaknya rumah makan Padang yang tersebar. Ini dimungkinkan karena makanan Padang yang gurih, agak pedas dan berkuah memang cocok dengan selera rakyat Indonesia pada umumnya. Cuaca khas daerah khatulistiwa yang panas sangat cocok dengan makanan bersantan dan pedas.

Terdapat 2 jenis rendang, rendang basah atau rendang dengan kuah santan yang masih banyak atau disebut juga kalio umum dijumpai di rumah makan padang. Dan rendang kering yang diolah dengan memasak rendang berjam-jam hingga kering kehitamanan. Rendang yang kering ini dapat bertahan berbulan-bulan sementara kalio hanya dapat bertahan hingga kira-kira 1 bulan. Menurut nenek kami, di daerah Minangkabau sendiri rendang memiliki berbagai varian, ada rendang Bukittinggi, rendang Payakumbuh, rendang Maninjau, rendang Pariaman yang biasa dijumpai di rumah makan padang, dan lain-lain beda daerah komposisi bahan berbeda. Meskipun banyak varian, komposisinya tetap yaitu bahan utama, santan, dan bumbu-bumbu.

Cara memasaknya pun berbeda-beda, ada yang menggunakan api besar dan diaduk terus menerus, ada yang menggunakan api kecil. Menurut pengalaman saya sendiri yang memang lahir dan besar di Payakumbuh ,Rendang Kubang ini dibuat menggunakan teknik memasak api kecil atau bahasa kerennya karamelisasi. Lama memasak bervariasi tergantung teknik memasaknya, bisa 4 jam hingga 6 jam.

Dari wikipedia, rendang memiliki makna budaya. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatera Barat, yaitu musyawarah dan mufakat, yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang, yaitu:
Dagiang (daging sapi), merupakan lambang dari "Niniak Mamak" (para pemimpin Suku adat)
Karambia (kelapa), merupakan lambang "Caciak Pandai" (kaum Intelektual)
Lado (cabai), merupakan lambang "Alim Ulama" yang pedas, tegas untuk mengajarkan syariat agama.
Pemasak (bumbu), merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap perhelatan istimewa, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan.